
JAKARTA – Nama Egy Maulana Vikri selama ini identik dengan kecepatan, kelincahan mengolah si kulit bundar, dan visi bermain yang tajam di lini depan Timnas Indonesia. Namun, memasuki awal tahun 2026, publik disuguhi pemandangan yang berbeda dari sosok pemain asal Medan ini. Bukan tentang gol indah atau assist krusial, melainkan tentang perannya yang luar biasa sebagai seorang ayah baru bagi putri pertamanya, Elara Maha Kamila.
Kehadiran Baby Elara, buah cintanya bersama Adiba Khanza, telah mengubah prioritas hidup Egy secara drastis. Di balik kegarangannya di lapangan hijau, Egy bertransformasi menjadi sosok suami dan ayah yang penuh kasih sayang serta sangat sigap dalam mengurus rumah tangga.
Momen Haru di Ruang Persalinan: Menjadi Sandaran Adiba
Peran besar Egy sudah terlihat bahkan sebelum Baby Elara menghirup udara dunia. Dalam proses persalinan normal yang dijalani Adiba Khanza, Egy membuktikan dirinya sebagai pendamping yang luar biasa. Cerita ini dibagikan oleh sang mertua, Umi Pipik, yang menyaksikan langsung bagaimana menantunya itu berjuang menguatkan sang istri.
“Saat proses melahirkan, Egy benar-benar tidak beranjak. Dia berdiri di sisi kiri Adiba, membantu mengatur pernapasan. ‘Ayo sayang, ambil napasnya begini, tahan lagi sayang’, begitu terus dia semangati istrinya. Dokter sampai terkesan melihat kesiapannya, sementara saya fokus memanjatkan doa di samping mereka,” kenang Umi Pipik saat ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (2/1/2026).
Ketenangan yang ditularkan Egy menjadi faktor kunci bagi Adiba dalam melewati momen-momen paling menentukan dalam hidupnya. Bagi Egy, mendampingi istri di ruang persalinan bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan tertinggi atas perjuangan seorang ibu.
Baca Juga:
Frislly Herlind Resmi Dilamar Difa Ryansyah, Awal Baru Menuju Pelaminan 2026
Begadang dan Profesionalisme: Tantangan di Luar Lapangan
Kehidupan setelah membawa pulang bayi dari rumah sakit seringkali menjadi ujian bagi para orang tua baru, tak terkecuali bagi seorang atlet profesional. Alih-alih menyerahkan urusan bayi sepenuhnya kepada pengasuh atau sang istri, Egy memilih untuk terjun langsung ke “medan tempur” popok dan botol susu.
Setiap malam, Egy rela membagi waktu tidurnya demi membantu Adiba. Pola asuh yang diterapkan pasangan ini adalah kerja sama tim yang solid; mereka bergantian berjaga saat Baby Elara terbangun di tengah malam.
“Dia (Egy) benar-benar kurang tidur karena begadang terus. Kasihan sama Adiba kalau harus sendirian,” jelas Umi Pipik.
Hebatnya, meski dilanda rasa kantuk yang luar biasa akibat begadang, profesionalisme Egy sebagai pemain sepak bola tidak luntur sedikit pun. Pagi harinya, ia tetap harus berangkat ke lapangan untuk menjalani latihan keras bersama klubnya.
Rutin harian Egy kini bertransformasi menjadi:
- Dini hari: Mengurus Baby Elara dan menemani Adiba.
- Pagi hari: Latihan fisik dan taktik bersama tim.
- Siang hari: Pulang untuk makan siang dan kembali bercengkrama dengan keluarga.
- Sore hari: Sesi latihan kedua atau laga uji coba.
Manajemen energi yang luar biasa ini menunjukkan betapa besarnya dedikasi Egy, baik untuk karier sepak bolanya maupun untuk keluarga kecil yang ia cintai.
Munculnya Sisi Sensitif: Dilema Laga Tandang
Menjadi pemain sepak bola profesional berarti harus siap dengan koper yang selalu tertata untuk perjalanan ke luar kota maupun ke luar negeri. Bagi Egy yang kini sedang dilanda rasa cinta yang mendalam terhadap putrinya, meninggalkan rumah terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Setiap kali ada jadwal laga tandang (away days) atau pemanggilan pusat latihan (TC) bersama Timnas, Egy kerap dirundung rasa khawatir. Ia kini menjadi lebih sensitif dan protektif terhadap kondisi anak dan istrinya di rumah.
“Sekarang kalau ada kegiatan di luar kota saja, dia pasti sangat khawatir meninggalkan Adiba dan bayi. Sisi sensitifnya benar-benar keluar sejak jadi ayah,” tambah Umi Pipik.
Kisah Egy Maulana Vikri ini memberikan perspektif baru bagi para penggemar sepak bola di tanah air. Di tengah stigma bahwa atlet muda seringkali terjebak dalam gaya hidup yang glamor, Egy justru menunjukkan kematangan emosional dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga di usia yang relatif masih muda.
Keseimbangan antara karier di lapangan hijau dan peran di dalam rumah tangga yang ditunjukkan Egy menjadi teladan nyata bahwa kesuksesan seorang pria tidak hanya diukur dari medali atau piala yang diraih, tetapi juga dari cara ia memperlakukan orang-orang tersayang di rumah.
Kini, setiap kali Egy melangkah ke lapangan, ia tidak lagi hanya membawa beban nama besar bangsa, tetapi juga membawa doa dan motivasi dari Baby Elara dan Adiba Khanza. Semangat baru ini diharapkan mampu membawa performa Egy semakin mengkilap, membuktikan bahwa keluarga bukanlah penghambat, melainkan bahan bakar utama menuju puncak prestasi.