
JAKARTA – Awal tahun 2026 yang seharusnya menjadi momen liburan keluarga yang hangat, berubah menjadi mimpi buruk bagi musisi sekaligus penulis kenamaan, Fiersa Besari. Sebuah insiden memilukan terjadi di pelataran Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Sabtu pagi (3/1/2026). Istri Fiersa, Aqia Nurfadla, mengalami kecelakaan tragis yang nyaris merenggut nyawanya akibat kelalaian seorang pengemudi lansia.
Kisah yang dibagikan Fiersa melalui unggahan emosional di Instagram Story-nya ini bukan sekadar berita kecelakaan biasa, melainkan sebuah refleksi tentang tanggung jawab, konsekuensi, dan batasan dalam mengemudi bagi lansia di jalan raya Indonesia.
Detik-Detik Mencekam di Stasiun Gambir
Kejadian bermula saat Fiersa Besari sekeluarga tiba di Stasiun Gambir untuk bertolak menuju Yogyakarta. Suasana tenang pagi itu mendadak pecah oleh teriakan kesakitan. Saat itu, Aqia bersama manajer Fiersa, Ubay, tengah sibuk menurunkan koper dari bagasi taksi. Sementara itu, Fiersa sendiri sedang menggendong putri kecil mereka, Kinasih, yang masih terlelap dalam tidurnya.
Tanpa aba-aba, sebuah mobil dari arah belakang menabrak mereka dengan keras. Aqia dan Ubay seketika tergencet di antara badan dua mobil. Ubay yang memiliki refleks cepat berhasil melompat ke samping, namun malang bagi Aqia, tubuhnya tak sempat menghindar dan terjepit di antara dua bemper besi.
“Aqia dan Ubay yang sedang ambil koper di bagasi ditabrak dari belakang dan menjadikan keduanya tergencet antara mobil,” tulis pelantun lagu Tulang Punggung tersebut dengan nada getir.
Horor tak berhenti di situ. Dalam kondisi Aqia yang sudah berteriak kesakitan, sang sopir penabrak—yang tampak panik dan salah mengantisipasi posisi gigi mobil—malah memajukan kendaraannya, bukan memundurkannya. Tindakan fatal ini membuat tubuh Aqia semakin terhimpit kuat.
Baca Juga:
Sisi Lain Sang Bintang: Dedikasi Tanpa Batas Egy Maulana Vikri sebagai “Ayah Siaga”
Ego dan Meremehkan Kondisi Korban
Fiersa menceritakan bahwa pelaku adalah seorang pria berusia sekitar 60 hingga 70 tahun. Namun, yang membuat emosi Fiersa meledak bukanlah sekadar tabrakannya, melainkan reaksi sang bapak setelah keluar dari mobil. Alih-alih menunjukkan empati yang mendalam, penabrak tersebut justru meremehkan kondisi Aqia.
“Reaksi pertama saya adalah marah besar. Tapi, lebih marah lagi ketika bapak ini meremehkan kondisi dengan bilang, ‘paling keseleo’. Terus mau kasih Rp 200 ribu untuk damai,” tegas Fiersa dalam unggahannya.
Bagi Fiersa, nominal uang tersebut adalah sebuah penghinaan terhadap rasa sakit yang dialami istrinya. Ledakan kemarahan Fiersa bukan didasari oleh ketamakan, melainkan ketidakadilan terhadap nyawa manusia yang hampir terancam. Ia tak bisa membayangkan seandainya Kinasih, putrinya, tidak sedang digendong dan ikut berdiri di belakang bagasi saat itu.
Konsekuensi dan Masalah Kemanusiaan
Setelah mendapatkan pertolongan pertama di Pos Kesehatan KAI Gambir, polisi pun tiba di lokasi. Sang penabrak akhirnya mengakui kesalahannya, namun ia mengaku tidak memiliki uang dan mobil yang dikendarainya pun bukan miliknya. Permintaan maaf pun akhirnya terucap.
Fiersa menekankan bahwa poin utama dari kemarahannya adalah soal konsekuensi. “Bagi saya bukan soal uang. Ini soal konsekuensi ketika berbuat kesalahan. Di satu sisi, bapak ini sudah sepuh. Di sisi lain, justru karena dia sudah sepuh, jangan sampai ada korban lain akibat kelalaiannya,” jelas pria yang akrab disapa Bung Fiersa ini.
Kejadian ini memicu diskusi hangat di media sosial mengenai kelayakan lansia dalam mengemudi. Banyak yang berpendapat bahwa seiring bertambahnya usia, koordinasi motorik dan kecepatan reaksi seseorang menurun drastis, yang dalam kasus ini terbukti dari kesalahan memindahkan gigi mobil (R dan D) yang berakibat fatal.
Kabar Melegakan dan Kebesaran Hati Aqia
Meski rencana liburan ke Yogyakarta harus dibatalkan total dan tiket kereta hangus, Fiersa bersyukur atas kabar baik dari rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan tidak ada tulang yang retak maupun patah pada tubuh Aqia. Kendati demikian, Aqia harus menjalani masa pemulihan karena trauma pada otot yang menyebabkan pembengkakan.
Menariknya, di tengah amarah Fiersa, Aqia justru menunjukkan kebesaran hati yang luar biasa. Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan masalah ini ke ranah hukum pidana yang lebih berat. Pertimbangannya murni karena alasan kemanusiaan; ia tak ingin proses hukum yang panjang menguras energi dan membuat kendaraan si bapak disita secara permanen.
Sebagai jalan tengah, sang penabrak dijatuhi sanksi tilang dan penahanan STNK oleh pihak kepolisian sebagai bentuk pertanggungjawaban administratif.
Insiden yang menimpa keluarga Fiersa Besari di Stasiun Gambir ini menjadi pengingat bagi kita semua. Mengemudi bukan hanya soal keterampilan menginjak gas dan rem, tapi soal tanggung jawab atas keselamatan nyawa orang lain. Kejadian ini juga menjadi cermin bagi keluarga yang memiliki anggota lansia untuk lebih bijak dalam memantau kemampuan mengemudi mereka demi menghindari tragedi serupa di masa depan.
Kini, fokus utama Fiersa adalah memastikan Aqia pulih sepenuhnya. Liburan mungkin tertunda, namun keselamatan keluarga tetap menjadi prioritas yang tak bisa ditukar dengan nilai uang berapa pun.