
Jakarta – Langit mendung di atas TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, pada Sabtu (24/1/2026) seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya pertahanan emosional seorang Reza Arap. Prosesi pemakaman selebgram populer Lula Lahfah tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, namun juga menjadi momen paling menghancurkan bagi musisi sekaligus YouTuber ternama tersebut.
Reza Arap, yang sejak awal kedatangannya berusaha tampil tegar demi menguatkan keluarga mendiang, akhirnya benar-benar kehilangan kendali diri saat gundukan tanah perlahan menutupi pusara kekasih tercintanya. Ketenangan yang ia coba bangun di hadapan publik hancur seketika, menyisakan pemandangan pilu seorang pria yang tengah berhadapan dengan luka kehilangan yang teramat dalam.
Jeritan Hati di Balik Gundukan Tanah
Kesedihan yang selama ini dipendam Reza seakan meledak saat seluruh prosesi pemakaman berakhir. Saat doa-doa terakhir dipanjatkan, Reza terlihat mulai terisak, namun gejolak emosinya memuncak hingga ia menangis histeris di area pemakaman. Ia tampak sangat kalut hingga harus menjauhkan diri dari kerumunan pelayat agar bisa meluapkan sesak di dadanya.
Sejumlah sahabat karib yang hadir, termasuk beberapa figur publik lainnya, segera bergegas merangkul Reza. Namun, di tengah isak tangis yang pecah, sebuah teriakan pilu keluar dari mulutnya—sebuah pertanyaan eksistensial tentang takdir yang seolah terus menguji ketabahannya dalam kehilangan orang-orang berharga.
“Jawab gue, kenapa semua orang ninggalin gue. Kenapa?” teriak Reza Arap dengan suara parau yang menyayat hati di tengah heningnya suasana pemakaman.
Teriakan tersebut bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan sebuah gambaran trauma mendalam atas kehilangan yang bertubi-tubi dalam hidupnya. Meski para sahabat berusaha membisikkan kata-kata penguat agar ia tidak larut dalam perhatian negatif media, Reza yang sudah tersulut emosi terdalam mengaku sudah tidak peduli lagi dengan citra publiknya. “Gue nggak peduli!” tegasnya saat dicoba ditenangkan.
Meski jiwanya tengah terguncang hebat, sisi lembut dan santun dari seorang Reza Arap tetap muncul di sela-sela rasa sakitnya. Sebelum memutuskan untuk meninggalkan area TPU Rawa Terate, ia menyempatkan diri untuk menghampiri ibunda mendiang Lula Lahfah yang juga tengah dirundung duka yang luar biasa.
Dalam sebuah momen yang sangat mengharukan, Reza bersimpuh di hadapan ibunda Lula, mencium tangannya dengan takzim, dan terlibat dalam perbincangan singkat yang penuh haru. Tak hanya kepada sang ibu, ia juga menunjukkan sikap hormatnya dengan berpamitan secara sopan kepada ayah Lula, M. Feroz, seolah ingin memastikan bahwa ia tetap hadir sebagai keluarga meski sosok Lula telah tiada.
Baca Juga
Langkah Berat Menuju Kenyataan Pahit
Saat harus berjalan menuju kendaraannya, langkah kaki Reza terasa sangat berat, seakan beban yang ia pikul terlalu besar untuk disangga oleh kedua kakinya sendiri. Raut wajahnya yang biasanya ekspresif kini hanya menunjukkan kelelahan luar biasa dan tatapan kosong.
Dikerumuni oleh awak media yang mencari keterangan, Reza hanya mampu memberikan jawaban singkat dengan nada bicara yang masih gemetar. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah doa bagi mendiang dan keluarga yang ditinggalkan, bukan mengenai dirinya sendiri.
“Pokoknya doanya bukan buat saya… buat… buat ke keluarga,” ujar Reza dengan suara pelan.
Hingga pintu mobil ditutup, Reza Arap mengaku masih berada dalam kondisi shock berat dan belum sanggup menerima kenyataan pahit ini secara utuh. “Saya masih memproses semuanya, masih belum… Masih belum,” ucapnya mengakhiri pembicaraan sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.
Kematian Lula Lahfah pada awal tahun 2026 ini meninggalkan lubang besar bagi komunitas kreator konten di Indonesia. Di tengah suasana duka ini, publik berharap Reza Arap dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan untuk melewati masa-masa tersulit dalam hidup mereka.