:strip_icc()/kly-media-production/medias/5539488/original/060323400_1774602032-pemakaman1.jpeg)
Suasana Haru dan Kenangan Terakhir Anji Bersama Ibunda
Suasana duka menyelimuti keluarga Anji Manji saat prosesi pemakaman ibundanya berlangsung di TPU Mangun Jaya, Bekasi, Jawa Barat. Kepergian sang ibu meninggalkan kesedihan mendalam bagi Anji, terutama karena wafatnya terjadi begitu tiba-tiba, tanpa adanya tanda-tanda sakit sebelumnya.
Sehari sebelum meninggal, almarhumah masih tampak sehat dan aktif. Ia sempat berinteraksi dengan keluarga, sahabat, bahkan para asisten rumah tangga yang selama ini menemaninya. Anji menceritakan bagaimana malam terakhir sang ibu masih berlangsung normal, bahkan sang ibu sempat mengirimkan pesan melalui aplikasi WhatsApp kepada keluarga.
“Kemarin tidak ada keluhan apa pun. Mama cuma bilang mau tidur lewat WhatsApp. Hari sebelumnya pun beliau masih sempat keluar rumah, bertemu sepupu saya, ngobrol, tertawa, bahkan menelepon beberapa sahabat saya. Semuanya normal,” ujar Anji usai prosesi pemakaman pada Jumat (27/3/2026).
Kegiatan sehari-hari sang ibu juga tampak berjalan lancar hingga dini hari. Ia sempat berbincang hangat dengan asisten rumah tangga Anji. Namun, keesokan harinya muncul rasa cemas ketika sang ibu tidak kunjung bangun dari tidurnya, padahal sebelumnya semua tampak baik-baik saja.
“Besok paginya juga tidak ada masalah. Beliau sempat ngobrol sama abang saya sampai sekitar pukul 11 malam, lalu berbincang dengan asisten rumah saya sampai pukul 3 pagi. Setelah itu, beliau sempat mengirim chat bilang mau tidur. Tapi tiba-tiba pukul 7.20 pagi saya mendapat kabar kalau Mama tidak bisa bangun,” kenang Anji.
Reaksi Cepat Anji Saat Mendengar Kabar Duka
Mendengar kabar tersebut, Anji segera bergegas ke rumah ibundanya yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sesampainya di sana, Anji mencoba memastikan kondisi sang ibu dengan penuh harap. Ia sempat merasakan denyut jantung yang lemah sebelum akhirnya menyadari bahwa ibundanya telah meninggal dunia.
“Saya langsung berlari karena rumahnya dekat sekali. Saya tepuk-tepuk sambil memanggil, ‘Mah, Mah, Mah, bangun Mah’. Awalnya terdengar napas dan denyut jantungnya sangat lemah. Tapi kemudian, saat saya pegang, saya merasakan bahwa semuanya sudah hilang,” ujar Anji dengan mata berkaca-kaca.
Perasaan kehilangan yang mendalam itu tentu dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Anji pun menuturkan bahwa momen-momen terakhir bersama ibunya sangat berkesan, terutama saat ia masih merasakan sedikit detak jantung sang ibu sebelum menghembuskan napas terakhir.
Kenang-Kenangan yang Selalu Dibawa Anji
Meski begitu, ada satu benda yang kini selalu melekat di tangan Anji sebagai pengingat terakhir dari ibundanya. Benda tersebut adalah sebuah gelang yang sempat dikenakan sang ibu hingga menit-menit terakhir kehidupannya. Gelang itu diberikan oleh salah satu asisten rumah tangga Anji, sebagai simbol kenangan dan kasih sayang yang tak akan pernah hilang.
“Oh, ini adalah gelang yang Mama pakai sampai meninggal. Saya dikasih sama Mbak saya. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Yuli yang selama ini menjaga Mama, menggantikan saya dan seluruh keluarga untuk 24 jam mengawasi beliau,” kata Anji sambil menunjukkan benda kenangan itu.
Gelang tersebut menjadi simbol kehangatan, perhatian, dan cinta yang terus melekat dalam ingatan Anji. Tidak hanya menjadi kenang-kenangan fisik, tetapi juga mengingatkan Anji akan perhatian ibundanya selama hidup.
Refleksi Kehidupan dan Hubungan Keluarga
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5538941/original/094953000_1774584529-anji.jpg)
Kepergian ibunda Anji menjadi momen introspektif bagi keluarga, terutama bagi Anji sendiri. Ia menyadari betapa pentingnya menghargai setiap momen bersama orang yang dicintai, karena hidup bisa berubah begitu cepat. Kabar duka ini juga mengingatkan kita semua akan pentingnya keluarga dan hubungan hangat yang dibangun selama masih ada kesempatan.
Anji pun menekankan bahwa meski kehilangan ibunda terasa sangat berat, kenangan manis dan nilai-nilai yang diajarkan sang ibu akan terus hidup dalam setiap tindakannya. Ia berharap cerita ini dapat menjadi pengingat bagi banyak orang untuk selalu menghargai keluarga dan mengungkapkan kasih sayang sebelum terlambat.
“Setiap momen bersama Mama sangat berharga. Walaupun beliau sudah tiada, saya merasa beliau masih ada dalam doa, dalam setiap kenangan, dan tentu saja dalam gelang kecil yang selalu saya bawa ini,” ungkap Anji dengan penuh haru.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup adalah serangkaian momen yang berharga, dan kepergian seseorang yang kita cintai tidak pernah bisa diprediksi. Meski duka menyelimuti, kenangan indah dan cinta yang ditinggalkan akan selalu abadi dalam hati keluarga.