Kabar perceraian kembali menyelimuti kehidupan pribadi Angga Wijaya. Setelah sebelumnya sempat menjadi sorotan publik karena perpisahannya dengan Dewi Perssik, kini Angga harus menghadapi ujian rumah tangga untuk kedua kalinya. Istrinya, Nurul Ana Kamaria, resmi mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada Maret 2026.
Keputusan tersebut tentu mengejutkan banyak pihak, terutama karena pernikahan mereka tergolong masih seumur jagung. Dalam keterangannya kepada media, Ana menegaskan bahwa perceraian ini bukan disebabkan oleh kehadiran orang ketiga, melainkan perbedaan prinsip dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ia menyebut bahwa perbedaan pandangan yang terus berulang menjadi alasan utama di balik keputusan untuk berpisah.
Menurut Ana, konflik yang terjadi bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang akhirnya membuat keduanya sepakat untuk mengambil jarak. Bahkan, di tengah proses perceraian yang masih berjalan, mereka diketahui sudah tidak lagi tinggal serumah. Meski demikian, Ana memastikan bahwa hubungan komunikasi dengan Angga tetap terjalin dengan baik.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun hubungan sebagai pasangan suami istri berada di ujung tanduk, keduanya masih berupaya menjaga hubungan secara dewasa. Terlebih, faktor anak menjadi alasan penting bagi Ana untuk tetap menjalin komunikasi yang harmonis. Ia menegaskan bahwa demi kepentingan anak, hubungan baik dengan Angga akan terus diupayakan, apa pun hasil akhir dari proses perceraian ini.
Isu lain yang sempat beredar di masyarakat adalah dugaan bahwa perceraian tersebut dipicu oleh masalah ekonomi. Namun, Ana dengan tegas membantah kabar tersebut. Ia justru menggambarkan Angga sebagai sosok yang bertanggung jawab dan berusaha memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga. Klarifikasi ini sekaligus mematahkan spekulasi liar yang berkembang di media sosial.

Di tengah kabar perceraian yang menjadi perbincangan hangat, perhatian publik juga tertuju pada sosok Dewi Perssik. Pedangdut yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan Angga itu mengunggah sebuah pernyataan di media sosial yang memicu berbagai tafsir. Dalam unggahannya, ia menyinggung tentang pola hubungan yang tidak akan berubah meskipun pasangan berganti.
Pernyataan tersebut langsung dikaitkan oleh warganet dengan situasi yang tengah dihadapi Angga dan Ana. Banyak yang menduga bahwa unggahan itu merupakan sindiran halus terhadap mantan suaminya dan kondisi rumah tangganya saat ini. Dewi juga menyampaikan bahwa ia tidak merasa iri terhadap sosok yang kini menggantikan posisinya di masa lalu, karena menurutnya, situasi yang dihadapi saat ini hanyalah pengulangan dari pengalaman sebelumnya.
Reaksi warganet pun bermunculan dengan berbagai komentar yang memperkeruh suasana. Sebagian mendukung pernyataan Dewi, sementara yang lain memilih bersikap netral dan berharap semua pihak dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Fenomena ini menunjukkan bagaimana kehidupan pribadi figur publik kerap menjadi konsumsi luas masyarakat, bahkan hingga memicu perdebatan di ruang digital.
Di sisi lain, kasus ini juga menggambarkan realitas bahwa pernikahan, terutama di kalangan publik figur, tidak lepas dari berbagai tantangan. Perbedaan pandangan, ekspektasi, dan cara menjalani kehidupan sering kali menjadi ujung dari konflik yang sulit disatukan. Meski terlihat harmonis dari luar, dinamika internal sebuah rumah tangga kerap jauh lebih kompleks.
Perceraian bukanlah keputusan yang mudah. Dibutuhkan pertimbangan matang serta keberanian untuk mengambil langkah yang dianggap terbaik bagi kedua belah pihak. Dalam kasus Angga dan Ana, keputusan untuk berpisah tampaknya diambil setelah melalui berbagai pertimbangan, termasuk demi menjaga kondisi emosional dan masa depan anak.
Publik kini hanya bisa menunggu bagaimana proses hukum ini akan berakhir. Apakah keduanya akan benar-benar berpisah secara resmi, atau justru menemukan jalan untuk berdamai dan kembali bersama. Apa pun hasilnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa hubungan rumah tangga membutuhkan komitmen, komunikasi, dan kesamaan visi yang kuat.
Pada akhirnya, di balik sorotan dan komentar publik, setiap individu memiliki cerita dan perjuangan masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana mereka mampu menghadapi situasi dengan bijak dan tetap menjaga hubungan baik, terutama ketika ada anak yang menjadi prioritas utama dalam kehidupan mereka.