TANGERANG SELATAN – Sosok Cinta Laura Kiehl selama ini dikenal sebagai selebritas yang cerdas, vokal terhadap isu sosial, dan sangat disiplin dalam kariernya. Namun, di balik citra wanita karier yang tangguh, artis berusia 32 tahun ini memiliki sisi lembut yang sangat kontras saat berbicara mengenai hewan peliharaan. Cinta baru-baru ini berbagi kisah menarik tentang kecintaannya yang mendalam terhadap kucing domestik, atau yang akrab disebut kucing kampung.
Ditemui di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan, Cinta menegaskan bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang silau dengan ras kucing tertentu yang berharga mahal. Baginya, koneksi batin dan karakter unik kucing asli Indonesia jauh lebih memikat dibandingkan kucing ras luar negeri.
Kucing ‘Made in Indonesia’: Pilihan Hati Sejak Kecil
Banyak figur publik berlomba-lomba memamerkan kucing ras seperti Persia atau Maine Coon yang memiliki bulu lebat layaknya kemoceng. Namun, Cinta justru merasa kucing domestik memiliki daya tarik yang tidak tertandingi. Ketertarikan ini ternyata sudah mendarah daging sejak ia masih kecil.
“Dari kecil memang aku selalu ngerasa kucing domestik atau kucing kampung itu lebih lucu daripada kucing ras. Jadi kalau aku melihat teman-teman aku dengan kucing rasnya yang bulunya kayak kemoceng, aku gak jealous sama sekali karena buat aku gak lucu,” ujar Cinta sambil berseloroh. Ia dengan bangga menyebut kucing-kucingnya sebagai produk “Made in Indonesia“.
Saat ini, Cinta memiliki dua kucing kesayangan di rumah yang ia beri nama Pipo dan Spiky. Baginya, kedua kucing ini bukan sekadar peliharaan, melainkan sudah dianggap sebagai anak kandung sendiri. Menariknya, Cinta juga menceritakan tentang Ramona, kucing yang dengan bercanda ia sebut ‘durhaka’ sehingga harus dipindahkan ke kantornya, di mana kini Ramona ditemani oleh adiknya yang bernama Midnight.

Standar Perawatan ‘Human Grade’ dan Rumah Sakit Mewah
Meskipun memelihara kucing kampung, standar perawatan yang diberikan Cinta sama sekali tidak sembarangan. Ia menerapkan prinsip kualitas di atas segalanya, terutama dalam hal kesehatan dan nutrisi. Cinta mengaku sangat selektif dalam memilih asupan makanan untuk para “anak bulunya”.
“Aku gak kaleng-kaleng kalau pilih makanan kucing buat kucing-kucing aku. Harus human grade,” tegasnya. Makanan kategori human grade berarti bahan-bahan yang digunakan memiliki standar kualitas yang layak dikonsumsi manusia, menunjukkan betapa Cinta sangat memperhatikan kebugaran fisik kucingnya.
Dari sisi medis, Cinta tidak ragu memberikan fasilitas terbaik. Ia rutin membawa kucing-kucingnya ke rumah sakit hewan yang memiliki kredibilitas tinggi di Jakarta. Bahkan, ada momen unik di mana staf rumahnya merasa takjub melihat kemewahan rumah sakit hewan langganan Cinta.
“Pernah ada staf rumah aku yang bilang, ‘Non, ini rumah sakit kucingnya lebih bagus daripada rumah sakit manusia’. Akupun kaget ya karena aku nggak nyangka ada rumah sakit hewan yang sebagus itu di Jakarta,” kenang lulusan Columbia University tersebut. Bagi Cinta, pemilihan dokter hewan yang tepercaya adalah investasi yang tidak bisa ditawar.
Baca Juga
Kisah Inspiratif Aldi Taher: Dari Bisnis Burger Viral Hingga Misi Membuka Lapangan Kerja
Filosofi Didikan: Menghargai Loyalitas dan Ketangguhan
Walaupun dimanjakan dengan makanan berkualitas dan fasilitas kesehatan nomor satu, Cinta memiliki filosofi unik dalam mendidik kucing-kucingnya. Ia ingin kucing domestiknya tetap memiliki insting bertahan hidup yang kuat dan tidak terlalu manja, meski tinggal di rumah mewah dengan empat kamar.
“Mereka kan kucing domestik, kalau bahasa awamnya kucing kampung. Jadi ya mereka harus tahu tough-nya dunia jugalah, jangan terlalu manja,” tambahnya.
Cinta juga berbagi tips mengenai cara membangun loyalitas pada kucing. Menurutnya, berbeda dengan anjing yang secara alami setia, loyalitas kucing harus dibentuk dan diajarkan. Selama enam bulan pertama usia kucingnya, Cinta memastikan dirinya sendiri yang memberikan makan dan camilan. Hal ini dilakukan agar sang kucing memahami bahwa kenyamanan dan keamanan mereka bersumber dari dirinya, sehingga ikatan batin yang kuat pun terbangun.
Jejak Kepedulian: Mengurus 80 Kucing di Kantor
Dedikasi Cinta terhadap kucing domestik ternyata tidak hanya terbatas pada peliharaan di rumah. Ia menceritakan pengalaman luar biasanya saat masih berkantor di daerah Ampera. Di sana, ia sempat mengurus hingga 80 ekor kucing yang lahir di lingkungan kantornya.
Bukannya membiarkan kucing-kucing tersebut terlantar, Cinta justru mengorganisir perawatan massal. “Itu semua lahir di kantor itu dan akhirnya kita besarkan, kita vaksin, kita kasih makan, dan kita steril juga,” tuturnya. Langkah sterilisasi dan vaksinasi yang dilakukan Cinta menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pecinta hewan untuk mengendalikan populasi dan menjaga kesehatan lingkungan.
Koneksi Batin sebagai Penentu
Bagi Cinta Laura, mengadopsi hewan adalah keputusan spiritual. Ia tidak pernah mencari kucing, melainkan merasa “dipilih” oleh mereka. Ia selalu mengandalkan koneksi batin saat bertemu dengan kucing di jalan atau di lingkungan sekitarnya.
“Aku melihat mereka tiba-tiba kayak ‘Wah, aku harus mengangkat mereka menjadi anak’. Jadi gak asal, harus ada connection-nya,” tutup Cinta.