
TOKYO – Ketika mayoritas dunia menyambut detik-detik pergantian tahun 2025 ke 2026 dengan dentuman meriam kembang api yang memekakkan telinga, aktris papan atas Prilly Latuconsina justru menemukan kebahagiaan dalam kesunyian. Bersama sosok pria yang tengah menjadi sorotan di sisinya, Omara Esteghlal, Prilly memilih untuk menanggalkan hiruk-pikuk Jakarta dan meresapi tradisi sakral masyarakat Jepang yang jauh dari kesan pesta pora.
Melalui unggahan di media sosialnya pada Kamis (1/1/2026), bintang film Budi Pekerti ini membagikan pengalaman unik yang disebutnya sebagai pengalaman “pertama” yang sangat merilekskan jiwa.
Bukan Kembang Api, Melainkan Dentang Lonceng Kehidupan
Bagi banyak orang, tahun baru tanpa kembang api mungkin terasa hambar. Namun bagi Prilly dan Omara, momen tepat pukul 00.00 di jantung kota Tokyo memberikan perspektif baru tentang arti sebuah awal. Tidak ada terompet yang saling bersahutan, tidak ada percikan api di langit. Sebagai gantinya, mereka mendengarkan gema Joya no Kane—sebuah tradisi pemukulan lonceng raksasa sebanyak 108 kali di kuil-kuil Jepang.
“Sesepi ini tahun baruan di Jepang. Cuma ada new year bell ya, enggak ada kembang api sama sekali,” ungkap Prilly melalui unggahan video di Instagram pribadinya.
Prilly menceritakan betapa takjubnya ia melihat ribuan orang berkumpul namun tetap dalam suasana yang sangat tenang dan tertib. Menurut tradisi setempat, pemukulan lonceng ini dipercaya dapat menghapuskan 108 keinginan duniawi yang membawa dosa dan penderitaan, sehingga seseorang bisa melangkah ke tahun baru dengan jiwa yang bersih.
Baca Juga:
Babak Baru Na Daehoon: Resmi Bercerai dan Perjuangan Membesarkan Tiga Buah Hati
Gaya “Matching” yang Elegan di Tengah Musim Dingin
Selain cerita budayanya, penampilan visual pasangan ini juga tidak lepas dari perhatian netizen. Prilly dan Omara tampil sangat serasi mengenakan coat panjang dengan palet warna yang senada. Di tengah suhu dingin Tokyo yang menusuk tulang, mereka terlihat kompak dalam balutan busana bergaya minimalis namun tetap memancarkan aura old money yang elegan.
Keharmonisan mereka terlihat saat berjalan kaki bersama menyusuri trotoar bersih menuju tempat makan. Meski harus menempuh waktu sekitar 18 menit berjalan kaki, senyum tak pernah lepas dari wajah keduanya. Momen ini seolah menunjukkan bahwa kebersamaan adalah “penghangat” terbaik di tengah musim dingin Jepang.
Merasakan Kekhidmatan Tradisi Berdoa
Omara Esteghlal, yang tampak sangat menikmati suasana tersebut, menyebut bahwa malam tahun baru di Jepang terasa sangat khidmat. Alih-alih berdansa, mereka menyaksikan masyarakat lokal mengantre panjang di kuil untuk melakukan doa pertama di awal tahun (Hatsumode).
“Habis itu udah, bubarannya tenang, sepi, tertib. Tadi kegiatannya mereka tradisinya berdoa kalau tahun baru karena mau mengawali tahun dan menuliskan harapannya itu,” lanjut Prilly.
Prilly dan Omara pun turut merasakan energi positif dari ritual tersebut. Baginya, pengalaman ini adalah sebuah rehat dari gaya hidup serba cepat di industri hiburan. Menuliskan harapan di atas lembaran kertas atau sekadar berdiri diam dalam keheningan doa memberikan rasa rileks yang luar biasa bagi pasangan ini.
Filosofi Keheningan: Pelajaran dari Negeri Sakura
Keputusan Prilly untuk merayakan tahun baru di Jepang pada 2026 ini seolah merefleksikan kedewasaannya dalam memandang kehidupan. Di usianya yang semakin matang, ia tampaknya lebih menghargai quality time dan kedalaman makna dibandingkan sekadar perayaan yang hingar bingar.
“Jadi ini tahun baru yang baru juga buat kita, pengalaman begini. Yeay… relax sih,” tambahnya dengan nada bahagia.
Bagi para penggemar, momen liburan Prilly dan Omara ini bukan hanya sekadar pamer kemesraan, tetapi juga menjadi edukasi budaya. Jepang mengajarkan bahwa transisi tahun adalah momen untuk refleksi diri, evaluasi atas apa yang telah dilalui di 2025, dan persiapan mental untuk menghadapi tantangan di 2026.
Setelah menikmati syahdunya malam tahun baru, agenda liburan mereka di Jepang diperkirakan akan berlanjut ke beberapa destinasi eksotis lainnya. Penggemar berspekulasi apakah keduanya akan mencoba pengalaman onsen di pegunungan bersalju atau menjelajahi sisi artistik kota Kyoto yang bersejarah.
Satu hal yang pasti, kemesraan yang dibalut dengan kesederhanaan berjalan kaki 18 menit dan mendengarkan lonceng kuil ini telah menetapkan standar baru untuk “Relationship Goals” di tahun 2026. Prilly membuktikan bahwa untuk mengawali tahun dengan indah, kita tidak selalu membutuhkan ledakan di langit, melainkan kedamaian di dalam hati dan orang yang tepat di sisi.
Liburan ini menjadi penutup manis bagi pencapaian besar Prilly di tahun sebelumnya, sekaligus menjadi bahan bakar energi sebelum ia kembali ke tanah air untuk proyek-proyek film terbarunya yang telah dinanti-nantikan.