Industri musik Indonesia kembali diselimuti awan duka yang mendalam. Sang maestro di balik lagu-lagu hits era 90-an, Endang Surahman Hartono atau yang lebih akrab disapa Ndhank, mantan gitaris band Stinky, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 18 April 2026.
Kepergian sosok yang merangkai melodi ikonik “Mungkinkah” ini meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan sejawat dan para penggemar setia Stinky.
Kepergian Ndhank terasa sangat mengejutkan bagi banyak pihak karena terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Berdasarkan keterangan dari saudara kembar almarhum, Edo Surahim, Ndhank sempat mendapatkan perawatan medis intensif selama tiga hari di salah satu rumah sakit di Manado, Sulawesi Utara.
Awalnya, Ndhank didiagnosa mengalami stroke ringan. Namun, kondisi kesehatannya menurun drastis dengan cepat. Tim medis berupaya melakukan penanganan maksimal, namun takdir berkata lain. Stroke ringan tersebut memicu komplikasi fatal berupa pecahnya pembuluh darah di otak, yang menjadi penyebab utama sang musisi meninggal dunia. Sebelum wafat, Ndhank dikabarkan sempat berada dalam kondisi koma dan bergantung pada alat bantu pernapasan.
Baca Juga

“Awalnya hanya stroke ringan, namun pada akhirnya terjadi pecah pembuluh darah di otak. Beliau dirawat sekitar tiga hari sebelum akhirnya berpulang,” ujar Edo kepada awak media pada Minggu (19/4/2026).
Penghormatan Terakhir dan Rencana Pemakaman
Kabar duka ini pertama kali tersiar secara luas melalui unggahan akun resmi Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI). Organisasi tersebut menyampaikan belasungkawa mendalam atas berpulangnya salah satu anggota mereka yang dikenal sangat vokal dalam memperjuangkan hak-hak komposer.
Mantan vokalis Stinky, Andre Taulany, juga turut menyampaikan rasa dukanya melalui akun media sosial pribadinya. Andre mengunggah momen kenangan lama dengan iringan lagu “Mungkinkah” sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada rekan perjuangannya di awal karier tersebut.
Rencananya, jenazah Ndhank akan disemayamkan dan dimakamkan di Manado. Pihak keluarga, terutama istri almarhum, masih mengurus proses administrasi dan teknis pemakaman, sehingga jadwal pastinya akan diinformasikan lebih lanjut kepada kerabat dan kolega.
Sosok Pejuang Hak Cipta dan Kontroversi Terakhir
Di masa-masa terakhir hidupnya, nama Ndhank Surahman sempat menjadi sorotan publik akibat perjuangannya terkait royalti dan hak cipta. Ia merupakan sosok yang melayangkan somasi kepada Andre Taulany dan band Stinky terkait larangan membawakan lagu ciptaannya, “Mungkinkah” dan “Jangan Tutup Dirimu”.
Langkah ini diambil Ndhank sebagai bentuk protes atas sistem distribusi royalti yang dinilainya tidak transparan dan tidak adil bagi pencipta lagu asli. Meski sempat memicu kegaduhan di dunia hiburan, Ndhank akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi, seraya tetap berharap ada perbaikan sistemik bagi kesejahteraan musisi dan komposer di Indonesia.
Bagi rekan-rekannya di AKSI, Ndhank adalah pribadi yang konsisten. Ia bukan sekadar gitaris, melainkan pejuang yang berani menyuarakan keresahan para pencipta lagu yang sering kali terabaikan oleh industri.
Warisan Abadi Sang Gitaris
Ndhank Surahman tercatat sebagai salah satu formasi awal band Stinky yang dibentuk pada 2 Februari 1995. Bersama Stinky, ia berhasil membawa warna baru dalam genre pop-rock Indonesia. Lagu “Mungkinkah” yang dirilis pada akhir 90-an menjadi fenomena nasional, bahkan hingga kini lagu tersebut masih sering diputar dan dinyanyikan oleh berbagai generasi.
Beberapa karya emas yang lahir dari jemari Ndhank antara lain:
- Mungkinkah – Lagu yang melambungkan nama Stinky ke jajaran papan atas.
- Jangan Tutup Dirimu – Hits ballad yang memperkuat identitas musikalitas Stinky.
- Kuingin – Salah satu lagu romantis yang identik dengan suara khas Andre Taulany.
Meskipun ia memutuskan untuk mundur dari Stinky pada tahun 2013 karena kesibukan pribadi, pengaruh musikalitasnya tetap terasa kuat di tubuh band tersebut hingga saat ini.
Kepergian Ndhank Surahman Hartono adalah kehilangan besar bagi sejarah musik pop Indonesia. Ia telah membuktikan bahwa sebuah karya yang jujur dan tulus dapat melampaui waktu. Kini, sang gitaris telah beristirahat dengan tenang, namun melodi “Mungkinkah” akan terus bergema sebagai saksi bisu kejayaannya di panggung musik tanah air.